Your web-browser is very outdated, and as such, this website may not display properly. Please consider upgrading to a modern, faster and more secure browser. Click here to do so.
(Source: eelum)
113,422 notes (via onherway & eelum)
Kamis malam lalu di bus Eka, Ganjar dan aku kembali berputar-putar pada topik tak berujung kami. Tentang kebiasaan mengigauku yang makin parah dan ketakutanku jika suatu hari nanti suamiku mendengar nama-nama yang tidak seharusnya kusebutkan. Tentang diskriminasi tidak langsung kami pada mereka yang kelebihan lemak. Tentang kemudahan dan hambatan mereka yang kebetulan berparas rupawan. Tentang pencarian Tuhan. Tentang kematian.
Kematian, siapa yang bisa membayangkan? Siapa yang tahu gelapnya sebuah peralihan? Ganjar entah mengapa akhir-akhir ini sering memikirkannya. Jika dalam Islam kami sejak kecil diajarkan akan ada hari pengadilan dan kehidupan akhirat, kami hanya dapat meleburkan pengertian bahwa hari-hari itu demikian menakutkan.
Barusan aku tahu betapa jarak kematian hanyalah selapis selaput kulit salak. Dalam perjalananku ke ABC siang tadi, entah bagaimana, aku menabrak becak yang sedang menyeberang di perempatan Gayungsari Barat. Saat itu hujan turun lumayan deras, bolehlah aku menjadikan licinnya jalan sebagai alasan. Rem tidak sempat menghentikan roda motorku, kecelakaan tak terhindarkan. Seperti kecelakaan lain, semua terjadi begitu cepat, yang aku ingat hanyalah kepalaku terjun bebas menuju trotoar. Perih menyebar, teriakan saling bersahutan. Ketika aku berhasil membangunkan badan, keramaian perlahan reda. Aku raba keningku, benjol seukuran telur ayam kampung terpampang di sana. Cairan semerah selai merambat dari luka di bawah hidung. Dari sekian kekhawatiran, aku amat menyesalkan satu; gigiku rumpal.
Karena aku salah dan memang merasa bersalah, tidak kuperdebatkan ketika Pak Becak meminta ganti rugi. Apalagi saat itu ia membawa penumpang yang sedang bertolak ke puskesmas. Malang sekali penumpang becak itu. Sudah jatuh tertimpa tangga. Sudah tidak sehat, ditabrak pula.
I’m such a terrible driver, really. Jangan salah, aku punya lisensi, walau didapatkan setelah lima kali gagal diuji. Teman-temanku bilang aku punya sembilan nyawa, sering nyaris tertabrak. Tapi delapan nyawa lainnya menyelamatkan. Mungkin tadi yang persediaanku yang terakhir, jadi lain kali aku harus ekstra hati-hati. Cuma, membayangkan kematian sempat begitu dekat rasanya begitu mencekat. Bagaimana kalau aku menabrak/ditabrak truk bukannya becak? Bagaimana kalau helmku terlepas hingga akhirnya aku gegar otak? Bagaimana jika aku tadi ditakdirkan mati tergeletak? Tanpa pemberitahuan, tanpa persiapan matang? Akankah aku siap?
1 note
I think I will cry at his weeding later. A little, two or three drops maybe. Because I thank he finally find the woman he wants to settle with, to commit something he used to never imagine. The woman of his forever, the one who’ll bring him forward. Because I can tell that will be another finish line of us. For our nowhere topics and stupid laughter, for our dumb gossips, pointless debates, and frank insults. All of those are gonna be bordered, our time is limited.
3 notes
Page 1 of 38