Thank you for the pain, it makes me raise my game
Jessie J.


The moment when you’re ready to let go, they suddenly come back right away. And you still don’t know yet why so easy to forgive.


Old

  • Ayah: Kenapa spionmu?
  • Aku: Tadi jatuh di parkiran. Itu gampang dibenerin kan? Hehe. Kan baru sekali aku jatuhin :D
  • Ayah: Lha kok sampe full step-nya?
  • Aku: Hehe sebenernya tadi aku nabrak tembok di parkiran
  • Ayah: Pasti gara-gara emosi mangkane pulang-pulang nangis
  • Aku: Hah? Kok tau?
  • Ayah: Pasti kamu diolok-olok temenmu ya? Karena kamu nggak lulus?
  • Old people always simplify teenage's problem -__-


skysignal:

Note to self.

skysignal:

Note to self.



Idealis

Sore tadi setelah Ibu bercerita pada Ayah bahwa anak tetangga kanan-kiri, anak teman ini-itu telah diterima di universitas sana-sini, beliau balik bertanya padaku “kamu kok masih tenang-tenang saja” sambil berkelakar. Memang aku tidak pernah mendongeng pada mereka tentang mekanisme pendaftaran universitas tahun ini, tentang undangan atau ujian tulis dan sebagainya. Aku juga paham kalau Ayah dan Ibu cuma ingin tahu hasil akhir tanpa peduli aku apply ini-itu. Respons mereka hanya dua: diam kalau aku berhasil, mengomel jika aku gagal. Sudah biasa.

Entah mengapa kemudian tiba-tiba tanganku tergerak untuk membuka laman SNMPTN sambil memikirkan prodi mana yang sebaiknya aku sarankan pada Ganjar mengingat begitu singkat dia harus mengejar waktu yang telah dibuangnya. Sampai di prodi yang telah aku pilih sendiri, semuanya jadi menciut. Hanya 34 bangku yang tersedia untuk seluruh peminat HI UGM di seluruh Indonesia, yang berarti aku harus mengalahkan lima puluh pesaing lain untuk mendapatkan satu. Gila, kan? Lalu pilihan keduaku juga tidak jauh lebih gila, 1:47. Demi tuhan, aku butuh keajaiban.

Di tengah pikiran negatif yang melayang-layang, muncul ide untuk membeli pin ujian tulis baru, lalu mengganti dengan prodi yang lebih aman. Entah Sastra Nusantara, Antropologi Budaya atau apapun yang penting dapat bangku kuliah tahun ini. Disorientasi memang menyesatkan, bukan? 

Lalu aku teringat pembicaraanku dengan Ganjar tentang idealisme versus selera pasar negeri ini yang mengerikan. Kami berpendapat alasan mengapa sinetron-sinetron tidak bermutu atau reality show yang nggak-banget itu jaya di dunia pertelevisian adalah bukan karena Indonesia miskin orang-orang kreatif melainkan karena keadaanlah yang memaksa mereka mengikuti selera pasar. Masyarakat sendiri yang mau dibodohi karena mereka enggan dipintarkan. Mereka yang berprinsip pada akhirnya harus mengorbankan idealismenya untuk menyambung hidup. Sedangkan demand dari masyarakat terus mematikan kreativitas dan celah bagi mereka yang menyediakan qualified supply. Kami berjanji tidak akan kalah pada nasib seperti mereka.

Bermain aman dan melepaskan idealisme demi mendapatkan bangku kuliah asal-asalan akhirnya bukan menjadi pilihan kami. Kami tidak mau disetir kondisi pasar, begitu intinya. Tidak peduli bagaimana hasilnya, kami akan berperang. Kalau tahun ini bukan giliran kami, bukankah masih ada tahun-tahun berikutnya? Semoga :)

*Ibuku masih masuk hitungan pasar di sini haha. I can easily draw her angry face if I fail this year :D



Sixteen

Fifteen minutes ago, I just read Ganjar’s text which was sent at 02:20. Ten hours ago, I accompanied Teti to open that goddamn site after praying together. Twelve hours ago, I was entering the registration number of you-know-who as I begged so deep to Him and my heart couldn’t stop racing as hell. The result was the same: it’s not their turn.

“You know you really love someone when their mood can automatically affect yours”. So did this time. I couldn’t explain how sad and confused I was as Teti tried hard to bear her tears. It’s like half of me was messing up too. Nothing that I could do but saying she has to keep believing and how we have to find what’s behind God’s plan. Thought I was the worst at raising up people I love.

And Ganjar’s was the most shocking and cracking. Taking a bad news as you just wake up is the most thing I hate. I was really hoping Fortune hit his face once again this mean time and so was he. It’s sixteen days before the test and he hasn’t prepared a thing cause only leaving it up on invitation. This is crazy but what can I do beside saying everything’s gonna be okay?

God I’m freaked out, really. Is that so hard to get the university that we want? Just please hold us, put our feet back in the ground. No matter what, I trust you; your decisions for us.



HIGH SCHOOL’S OVER! Congrats ourselves :D

HIGH SCHOOL’S OVER! Congrats ourselves :D



Someone once said that when you don’t know what to do, do nothing
The Women


Laughing my ass off every time I remember the way we fight then get along again and again. You were such a pain in the ass (still actually :P). Thanks a bunch for these 3 hilarious years, will we have another year in the same town together? :D

Laughing my ass off every time I remember the way we fight then get along again and again. You were such a pain in the ass (still actually :P). Thanks a bunch for these 3 hilarious years, will we have another year in the same town together? :D